Kamis, 27 November 2014

Perlunya perencanaan finansial pribadi TUGAS PENGANTAR BISNIS



Mengapa Perencanaan Keuangan Pribadi  menjadi hal yang cukup penting saat ini? jaman dulu, orang tua kita mungkin tidak pernah memikirkan perlunya Perencanaan Keuangan Pribadi. Kata asuransi, investasi, adalah sesuatu hal yang hampir tidak pernah disinggung oleh orang tua kita. Tapi, coba lihat kondisi sekarang, asuransi adalah produk keuangan yang hampir dimiliki oleh semua orang. investasi menjadi suatu keharusan kalau kita tidak mau uang kita habis termakan inflasi.
apa manfaat dari Perencanaan Keuangan Pribadi ?
Perencanaan Keuangan adalah pengaturan strategi dalam mengelola keuangan yang  merupakan tugas dan tanggung jawab masing masing dari kita. Dari dulu, nenek moyang kita juga telah melakukannya dengan caranya sendiri. Menyimpan dalam lemari, dibawah kasur, menimbun emas, menjadi juragan tanah, dan banyak cara lainnya. Boleh dibilang, orang orang jaman dulu, nenek kakek kita, memiliki pengelolaan keuangan yang lebih tertib dari kita.
Maraknya pertokoan dan media yang tersedia untuk mempromosikan barang, serta fasilitas kredit yang tersedia dimana mana membuat gaya hidup konsumtif sudah menjadi gaya hidup sehari hari. Bukan saja menabung menjadi sudah, malah kita harus melawan hutang dengan bunga tinggi. ditambah lagi kenaikan biaya biaya menyebabkan kita harus melawan inflasi.
Dalam keuangan pribadi, ternyata banyak hal yang perlu dipertimbangkan, bukan hanya semata untuk meningkatkan aset kita setinggi tingginya, akan tetapi bagaimana menjaga agar aset yang kita miliki tersebut tetap terjaga dan terdistribusi dengan baik sesuai keinginan dan kebutuhan kita.
Hal pertama yang selalu menjadi dasar dalam Perencanaan Keuangan Pribadi adalah pengelolaan Cash Flow dan Aset.
CASH FLOW
Inilah langkah awal untuk memiliki Keuangan Pribadi yang sehat. Cash Flow yang baik, Pengeluaran lebih kecil dari Pemasukan, memungkinkan kita untuk menyisihkan sebagian penghasilan kita saat ini, untuk memenuhi kebutuhan besar di masa depan.
apa kendala dalam pengelolaan Cash Flow ?
Fasilitas yang sangat mudah saat ini untuk berhutang membuat hutang menjadi beban yang dimiliki hampir setiap orang. Belum lagi ditambah dengan tingginya bunga yang harus dibayarkan, membuat keuangan kita menjadi lemah. Sebut saja mulai dari mudahnya mendapatkan Kartu Kredit, Penawaran Kredit Tanpa Agunan (KTA) serta penawaran discount yang marak dimana-mana, menyebabkan banyak orang lebih  mendahulukan kebutuhan saat ini dibandingkan kebutuhan nanti dengan biaya tinggi.
Bagaimana agar memiliki Cash Flow positif ?
Seperti telah disampaikan, Cash Flow Positif, artinya pengeluaran kita lebih kecil dari penghasilan. Dengan Cash Flow Positif, kita memiliki kemampuan untuk menyisihkan sebagian penghasilan dan disimpan baik dalam bentuk tabungan maupun produk investasi. Buatlah anggaran bulanan dan tahunan keluarga. Catat semua penghasilan, baik penghasilan rutin, maupun penghasilan tidak rutin, dalam bentuk penghasilan bulanan maupun penghasilan tahunan.  Begitu juga dengan pengeluaran. pengeluaran terbagi atas pengeluaran bulanan, untuk kebutuhan sehari hari dalam bulanan keluarga. Pengeluaran tahunan perlu kita pisahkan dari pengeluaran bulanan, karena biasanya hanya terjadi dalam 1 x setahun, misalnya pengeluaran hari raya, pembayaran pajak, STNK, PBB dll.
kalau hasilnya negatif, coba lihat pengeluaran mana yang terlalu  berlebih dan bisa kita kurangi agar menjadi positif. Lunasilah hutang dengan bunga tinggi segera, seperti hutang kartu kredit ataupun KTA. Hutang inilah yang umumnya menjadi pengganggu dalam cash flow kita.
Jangan lupa selalu anggarkan dana untuk menabung secara rutin baik dari penghasilan bulanan maupun penghasilan tahunan. Minimal 10% dari penghasilan, itulah angka yang umum berlaku. Apabila kita ingin memiliki aset dengan cepat, maka tingkatkan rasio menabung tersebut.
ASET dan HUTANG
Cash Flow Positif dari penghasilan kita, merupakan asal muasal peningkatan Aset kita. Tabungan yang kita lakukan setiap bulan, tentu saja akan meningkatkan besarnya saldo tabungan kita di Bank. itulah aset kita dalam bentuk Tabungan. begitu juga apabila kita menambah aset kita dalam bentuk produk investasi lainnya, seperti emas, reksadana, saham, obligasi, properti, bisnis dan banyak lagi bentuknya.
apa yang bisa menggerogoti aset kita ? investasi yang buruk dan hutang, tentu saja.
Semakin maraknya investasi bodong saat ini membuat kita harus berhati-hati akan penempatan dana kita.  Bukannya menjadi bertambah, investasi bodong membuat kekayaan kita hilang ludes tanpa kejelasan. Hati-hati dengan penawaran produk investasi dengan janji janji return yang tinggi. selalu ingat prinsip dalam berinvestasi “High return High risk”
Hutang bisa dikategorikan dalam “hutang baik & hutang buruk”. hutang baik adalah hutang yang kita gunakan untuk membeli aset yang nilainya terus meningkat. Termasuk kategori ini adalah KPR dan hutang bisnis. Sementara hutang buruk adalah hutang konsumtif, dimana kita gunakan untuk membeli barang-barang konsumtif, dan terkadang dengan bunga tinggi.
Apabila total nilai aset kita dikurangi total hutang ternyata negatif, artinya kita masuk dalam ambang kebangkrutan. Maksimal rasio 50% menjadi patokan kita untuk melihat kondisi aset kita. Bagilah total hutang yang kita miliki dengan total aset, dan lihatlah angkanya. Apabila melebihi 50% artinya sudah waktunya kita mengurangi hutang yang kita miliki.
Tentu saja masih banyak lagi pembahasan dalam Perencanaan Keuangan Pribadi. Proteksi, Investasi, Distribusi Aset, serta yang utama Tujuan Keuangan akan menjadi pembahasan kita dalam minggu ini.

Langkah - langkah dalam belajar mengontrol asset
Kebiasaan yang Anda jalankan setiap harinya menentukan seperti apa masa depan Anda. Tak terkecuali dalam hal keuangan. Coba amati cara dan kebiasaan Anda mengelola uang. Jika hingga saat ini kondisi keuangan pribadi masih carut marut, memiliki penghasilan rutin bulanan namun tak dapat menikmatinya atau pas-pasan bahkan defisit setiap akhir bulan, saatnya instrospeksi diri.
Jangan berdiam diri, tapi cari tahu penyebab kondisi keuangan yang masih berantakan ini. Cermati lagi, boleh jadi Anda tak menjalankan kebiasaan keuangan yang baik. Berikut tujuh kebiasaan baik keuangan yang perlu dipraktikkan untuk menjadikan Anda pribadi positif.
1. Menabung
Hanya dengan menabung kehidupan Anda dapat lebih tenteram. Anda akan merasa nyaman karena pengeluaran ke depan sudah ada di tabungan.
2. Cerdas berbelanja
Anda menyadari dan menjalani kebiasaan menghindari belanja berlebihan. Caranya, Anda hanya berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan budget. Dengan begitu, Anda dapat menabung lebih banyak sehingga ada cukup dana berlebih untuk berinvestasi.
3. Mencatat pengeluaran pemasukan
Ini adalah metode sederhana yang bisa diterapkan siapa saja. Tujuannya, agar Anda lebih mudah mengendalikan pengeluaran. Dengan pencatatan, Anda dapat melihat lebih detil setiap perputaran keuangan. Namun jangan sekadar mencatat saja, tapi jadikan catatan ini sebagai acuan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki kebiasaan keuangan yang kurang baik.
4. Menghindari utang
Utang terutama utang konsumtif dapat merugikan Anda karena bunga utang sangat memberatkan. Bunga kartu kredit yang sering Anda pakai berbelanja misal sebesar tiga persen per bulan atau 36 persen setahun, lebih tinggi daripada deposito bahkan investasi di pasar modal. Utang harus dikendalikan untuk mewujudkan kondisi finansial yang baik.
5. Mengendalikan pengeluaran
Berbagai cara bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran. Sebagai contoh dengan sistem amplop yang dapat membantu Anda membatasi pengeluaran dan lebih disiplin memakai dana di mesin ATM. Dengan sistem amplop, Anda "dipaksa" memakai dana yang telah dianggarkan melalui sistem amplop tersebut.
6. Menjaga keamanan finansial keluarga
Bisa dilakukan dengan menerapkan pembelian asuransi seperti asuransi jiwa serta asuransi kesehatan. Asuransi jiwa berfungsi melindungi keluarga dari kehilangan nafkah sumber penghasilan seseorang yang menjadi tumpuan keluarga jika dia meninggal dunia. Asuransi kesehatan berfungsi sebagai perencanaan risiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit.
7. Berinvestasi
Banyak pilihan cara berinvestasi, bisa dengan membeli emas logam mulia, menabung di deposito, membeli reksadana dan saham. Komponen Investasi tersebut memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan serta risiko, sehingga tergantung daripada profil Anda sebagai investor. (as/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar